Sabtu, 23 Juni 2018

Cerita Sentra Keramik Kiaracondong Yang Melegenda

Kota Bandung mempunyai sentra industri keramik yang sudah berdiri mulai sejak th. 1960 yang lalu. Sampai saat ini, sentra keramik Kiaracondong tetap masih berproduksi.

Salah seseorang pengrajin keramik yang masih tetap selalu bertahan yakni Kosim Sundana (72). Ia melanjutkan usaha yang dirintis mertuanya mulai sejak 1960an. Kosim meneruskannya mulai sejak th. 1981. Seputar 30 th. lebih ia menghasilkan beragam jenis keramik seperti guci, piringan hias, asbak, serta kerajinan yang lain yang terbuat dari tanah liat.

Baca Juga: cat tembok 

Seperti produksi keramik yang lain, sistem membuatnya juga sangatlah bergantung dengan cuaca serta situsya sistem pembakaran. Ke-2 sistem ini juga bergantung pada bentuk keramik apa yang bakal dibuatnya. “Pembuatan satu guci besar dapat menghabiskan waktu dua minggu, bahkan juga lebih, ” tuturnya ditempat kerajinan kepunyaannya di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (23/2/2018).

Baca Juga: cat kayu 

Kosim mengharapkan sentra industri keramik di Kiaracondong senantiasa eksis. Ia juga mengharapkan supaya beberapa kolektor keramik lebih pilih keramik asli buatan dalam negeri dibanding buatan luar negeri. “Semoga pemerintah dapat membatasi barang dari luar negeri. Hingga barang dalam negeri dapat maju, ” tuturnya mengharapkan.

Didapati ditempat yang tidak sama, pengrajin yang lain, Yuyun Wahyudin (51) bercerita debutnya di bagian industri keramik yang telah ia jalani mulai sejak th. 1997.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar