Asosiasi entrepreneur besi serta baja atau The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) juga akan memaksimalkan juta-an ton limbah slag jadi besi beton dan bahan material lapis fondasi serta lapis fondasi bawah, menyusul dikeluarkannya Standard Nasional Indonesia (SNI) th. ini. Slag sampai kini masuk dalam kelompok limbah Bahan Beresiko Beracun (B3).
Wakil Ketua IISIA, Ismail Mandry menyebutkan, pihak Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) dengan asosiasi baja, akademisi sudah lakukan riset dengan dalam satu tahun lebih paling akhir ini, slag saat ini telah mempunyai SNI. Yaitu, SNI 8378 : 2017 (spesifikasi lapis fondasi serta lapis fondasi bawah).
Pihaknya percaya, kehadiran besi Hollow SNI ini juga akan menggerakan industri besi baja di Indonesia. Terdaftar jumlah anggota IISIA sekarang ini sejumlah 143 perusahaan.
Sejumlah 47 perusahaan ada di Jawa Timur. ” Peleburan baja paling banyak berada di Jawa timur. Lalu Banten, Jakarta, Sumatera Utara, serta Sulawesi Selatan, ” paparnya.
Menurutnya, di lokasi Cilegon, Jawa Barat (Jawa barat) ada beberapa perusahaan besi baja yang hasilkan harga wire mesh slag menjangkau 1, 4 juta ton/th.. Sedang di Jawa timur dapat hasilkan slag sampai 600. 000 ton/th..
Mulai sejak industri besi baja mulai berkembang pada 1973-an, slag cuma berhenti jadi limbah B3. Walau sebenarnya, diluar negeri seperti Korea Selatan serta Jepang slag telah dipakai untuk pembangunan besi jalan raya.
” Kami bukan sekedar lihat potensinya namun memanglah sampai kini slag jadi problem karna dipandang jadi limbah B3. Lantas, ingin diapakan slag ini bila bukanlah dimaksimalkan dicarikan jalan keluar agar mempunyai faedah, ” jelas dia.
Sesaat, Rektor Institut Tehnologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Joni Hermana menyebutkan, beberapa besar limbah B3 yang dibuat sebagian negara didunia dibuang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk juga Indonesia. Dari hasil penilaian kemampuan KLHK Th. 2015 pada periode 2014-2015 pada lebih kurang 2. 000 industri di Indonesia, tunjukkan jumlah limbah B3 yang dikelola sekitar lebih kurang 193 juta ton.
” Jumlah ini selalu bertambah mengingat perubahan jumlah serta kesibukan industri yang makin banyak, ” tuturnya.
Limbah B3 ini datang dari beragam bagian seperti industri, kendaraan bermotor, domestik/rumah tangga, pertambangan, rumah sakit serta laboratorium. Aktivitas pengelolaan limbah B3 ini mata rantainya cukup panjang yang melibatkan banyak pihak dari mulai penghasil limbah B3, pengangkut, pengumpul, pemanfaat, pengolah serta penimbun limbah B3.
Pemakaian B3 miliki nilai ekonomis yang cukup tinggi serta menjanjikan, tetapi implementasinya membutuhkan pengawasan ketat termasuk juga untuk perusahaan yang mempunyai izin. ” Ke depan, dibutuhkan alternatif tehnologi serta tinjauan regulasi yang ada berkaitan pemakaian limbah B3 ini, ” jelas Joni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar